vadakkuvaasal.com

Harga BBM Naik, Mobil Listrik dan Hybrid Bakal Semakin Diminati?

Saat mobil akan didiamkan untuk waktu lama, sebaiknya BBM diisi penuh
Lihat Foto

JAKARTA, - PT Pertamina (Persero) kembali menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) eceran nonsubsidi sekitar Rp 700, yang mencakup Dexlite, Pertamina Dex, dan Pertamax Series pada Minggu (1/10/2023).

Perseroan mengatakan, penyesuaian tersebut didasari oleh sejumlah aspek seperti tren harga rata-rata publikasi minyak dunia (Means of Platts Singapore/MOPS) sehingga tak membebani devisa.

Dengan putusan ini, maka Pertamina sedikitnya sudah melakukan lima kali penyesuian harga BBM nonsubsidi, yang dimulai Januari, Februari, Agustus, serta September 2023. Melihat tren terkait, apakah masyarakat akan mulai beralih ke kendaraan listrik?

Baca juga: Perbandingan Harga BBM Pertamina, Shell, dan BP AKR per Oktober 2023

All New Honda CR-V HybridDok. HPM All New Honda CR-V Hybrid

Business Innovation and Marketing & Sales Director PT Honda Prospect Motor Yusak Billy mengatakan, kenaikan harga BBM sedikit-banyak mampu mempengaruhi penjualan atas mobil berbahan bakar fosil.

Hanya saja, faktor tersebut bukanlah satu-satunya. Ada beberapa aspek lain yang turut mempengaruhi daya beli masyarakat seperti kondisi ekonomi sampai politik.

"Dalam jangka pendek bisa saja berdampak (ke penjualan). Kami akan berusaha untuk memonitor dampaknya sambil berusaha memberikan value terbaik bagi konsumen," ujar dia kepada , Selasa.

Soal kendaraan listrik, kendati tak dinyatakan secara pasti, tapi menurutnya bila kenaikan harga BBM terus terjadi, bisa memacu masyarakat memilih mobil yang memiliki tingkat efisiensi pembakaran lebih baik alias hemat BBM.

Baca juga: Chery Masih Belum Bisa Pastikan Kehadiran Tiggo 4 Pro di Indonesia

Toyota Kijang Innova Zenix HybridDok. TAM Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid

Hal serupa juga dinyatakan Marketing Director PT Toyota Astra Motor Anton Jimmi Suwandy. Apalagi, bagi masyarakat yang mengandalkan kendaraan sebagai alat transportasi harian.

"Semua kemungkinannya ada, baik hybrid, plug-in hybrid, bahkan BEV (Battery Electric Vehicle). Selain itu, model-model ICE yang lebih hemat bahan bakar seperti LCGC juga bisa jadi pilihan," katanya.

Namun keputusan masyarakat dalam membeli mobil listrik, apapun teknologinya, sangat kompleks. Artinya, bukan hanya gara-gara BBM naik lantas semua berbondong untuk melakukan transisi tetapi banyak faktor pendukung lain.

Misalnya, ketersediaan infrastruktur kendaraan listrik berupa charging station, regulasi pemerintah, model dan harga mobil, dan lain-lain.

Baca juga: Tinggal Dua Minggu, MotoGP Mandalika Siap Digelar

Sejumlah kendaraan antre mengisi BBM jenis Pertalite dan Pertamax di salah satu SPBU, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (9/8/2022). Kepolisian Resor Bogor, Jawa Barat, akan menyiagakan personel di seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU yang ada wilayah Kabupaten Bogor jelang kenaikan harga BBM.
ANTARA FOTO/Arif Firmansyah Sejumlah kendaraan antre mengisi BBM jenis Pertalite dan Pertamax di salah satu SPBU, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (9/8/2022). Kepolisian Resor Bogor, Jawa Barat, akan menyiagakan personel di seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU yang ada wilayah Kabupaten Bogor jelang kenaikan harga BBM.

Untuk diketahui, tren penjualan kendaraan listrik di Indonesia selama Januari-Agustus 2023 tengah meningkat signifikan. Menurut data Gaikindo, total penjualannya sudah mencapai 37.499 unit, naik 450 persen lebih dari tahun sebelumnya.

Dari jumlah itu, 77 persen merupakan kendaraan listrik berteknologi hybrid dengan total pasar 29.227 unit. Kemudian diikuti BEV sebanyak 8.310 unit dan PHEV 58 unit.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat