vadakkuvaasal.com

IPOMI Nilai Penindakan Bus dengan Telolet Masih Minim di Daerah

Warga antusias menyaksikan lomba telolet yang digelar Paguyuban Pelaku Wisata (PPW)   Jawa Tengah di The Wujil Resort & Conventions,  Jl. Soekarno-Hatta km 25,5 Ungaran, Wujil, Bergas,   Semarang, Rabu (12/7/2017).
Lihat Foto

JAKARTA, - Kejadian kecelakaan yang melibatkan klakson telolet kembali terjadi. Kali ini seorang anak yang menaiki sepeda tertabrak bus saat sibuk meminta pengemudi menyalakan telolet.

Video tersebut viral di media sosial, salah satunya diunggah akun bogor_update. Kabarnya, anak kecil tadi cuma mengalami luka ringan, tidak terlalu parah.

Sebenarnya Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sudah mengeluarkan surat edaran buat tidak meluluskan bus dengan klakson telolet saat uji KIR. Tapi, masih ada saja bus yang memasangnya dan membunyikan di tengah keramaian.

Baca juga: Perlukah Pengemudi Memahami Kode Sein dari Bus?

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by BOGOR UPDATE (@bogor_update)

 

Menurut Kurnia Lesani Adnan, Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI), masih maraknya bus dengan klakson telolet karena pemerintah tidak kuat untuk mengawasi dan tegas dalam menindak.

"Mungkin aparat penegak hukumnya juga tidak paham dengan aturan yang dibuat mereka sendiri. Ini PR utamanya," kata pria yang akrab disapa Sani kepada , Selasa (18/6/2024).

Sani bilang, kalau sudah ada aturannya, harus dipastikan kalau seluruh petugas yang menindak paham. Jangan sampai malah lolos dan bus dengan telolet masih gampang berkeliaran.

Baca juga: Orang Tua Harus Larang Anaknya Berburu Klakson Telolet


"Di tempat uji enggak paham, aparat di jalan juga menurut saya banyak yang tidak paham aturan uji landasan," kata Sani.

Soal telolet, sebenarnya sudah melanggar karena melakukan modifikasi pada kendaraan. Bus ketika dibuat oleh pabrikan dan karoseri sudah mengikuti PP No. 55 Tahun 2012 tentang kendaraan.

"Sayangnya di daerah, terlalu banyak petugas yang tidak paham. Perhubungan itu harusnya tidak di otonomi daerah, harus segaris dari pusat," kata Sani.

Tapi kenyataannya, terlalu banyak pembiaran bus dengan telolet. Makanya kejadian kecelakaan karena maraknya bus membunyikan telolet di tempat ramai terus saja terjadi.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat