vadakkuvaasal.com

Alasan Truk Transformers Tak Eksis di Indonesia

Optimus Prime
Lihat Foto

JAKARTA, - Optimus Prime sang pemimpin Autobots punya ciri khas sebagai truk besar dengan “mancung” dengan kap panjang. Truk seperti itu tak ada di Indonesia yang mayoritas berjenis truk “pesek.”

Pertanyaan itu mengganjal buat masyarakat Indonesia. Salah satunya diangkat dalam postingan akun Instagram Garasi Quarter, yang mempertanyakan mengapa di Indonesia tidak ada truk ala Transformers.

Kegedean kah? Kemahalan? ???? kenapa ya kira kira,” tulis akun dikutip , Kamis (10/7/2024).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Jual Beli Mobil Indonesia Temurah (@garasi.quarter)

Dedy Untoro Harli, Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jateng DIY, mengatakan, truk di Indonesia mayoritas berjenis pesek alias tidak ada kap mesin karena lebih ringkas.

“Jadi begini sebetulnya truk zaman dulu yang masuk Indonesia ada juga yang pakai moncong seperti Toyota Boyo dan Mercy Bagong,” ujar Dedy kepada , Kamis (10/7/2024).

Jadi sebetulnya saat ini itu mengikuti era yang berubah. Di Eropa dan Asia saat ini semua truknya tidak ada moncong kecuali di Amerika Serikat. Jadi truk yang seperti itu cuma di AS,” katanya.

Baca juga: Bagnaia Benci Pebalap MotoGP yang Lakukan Towing

Razia truk ODOL digelar di ruas tol JORR.Dok. Jasa Marga Razia truk ODOL digelar di ruas tol JORR.

Dedy menjelaskan, di AS jalan tolnya panjang sehingga butuh kendaraan yang besar, berat, dan berkapasitas besar. Kap mesin dalam hal ini juga berpengaruh pada kelincahan truk untuk membelah angin.

“Karena di AS itu kalau tidak salah jalan tol itu besar, dan di AS rata-rata pengemudinya itu bukan sopir (perusahaan) tapi punya sendiri (milik pribadi). Makanya di dalamnya itu seperti ada rumahnya (kasur) jadi bisa tinggal,” katanya.

Dengan budaya seperti itu kata Dedy, truk-truk buatan merek AS punya spesifikasi tersendiri yang secara budaya kurang cocok atau tidak perlu di Indonesia.

Baca juga: BYD Bangun Pabrik Mobil Listrik di Thailand, Apa Kabar Indonesia?

Ikuti google map truk tronton nopol B 9503 UEW memuat cairan politur 8 ton yang dikemudikan oleh Widi Sapto (40) warga Kota Cikarang, Jawa Barat tak kuat menanjak di jalur menanjak ekstrem Sarangan- Cemorosewu, Kabupaten Magetan. Widi mengaku tak mengetahui medan jalan yang cukup ekstrem dengan tanjakan dan tikungan tajam karena tidak pernah melalui jalan tersebut.KOMPAS.COM/SUKOCO Ikuti google map truk tronton nopol B 9503 UEW memuat cairan politur 8 ton yang dikemudikan oleh Widi Sapto (40) warga Kota Cikarang, Jawa Barat tak kuat menanjak di jalur menanjak ekstrem Sarangan- Cemorosewu, Kabupaten Magetan. Widi mengaku tak mengetahui medan jalan yang cukup ekstrem dengan tanjakan dan tikungan tajam karena tidak pernah melalui jalan tersebut.

“Jadi ibaratnya beda budaya. Karena AS negaranya termasuk luas, jalan tol jauh sekali, sedangkan di Indonesia belum butuh. Jadi kembali ke kebutuhan. Kalau di lihat di Jepang dan Eropa juga tidak ada truk pakai moncong,” katanya.

Dedy menegaskan, di Indonesia ada truk “Transformer” bukan karena dimensinya besar dan tak sesuai dengan aturan dari Dinas Perhubungan (Dishub) tapi karena tidak sesuai dengan kebutuhan.

“Engga. Bukan karena aturan-aturan itu. Memang tidak populer saja. Toh waktu zamannya Mercy Bagong sampai sekarang kan masih ada yang jalan dan tidak apa-apa. Masih boleh jalan,” ujarnya.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat