vadakkuvaasal.com

Tekor Angin Jadi Salah Satu Jenis Rem Blong Mematikan

Kecelakaan bus pariwisata yang membawa rombongan SMK Lingga Kencana Depok
Lihat Foto

KLATEN, - Banyak bus dan truk mengalami rem blong ketika melewati jalan menurun. Penyebab rem blong sendiri bisa disebabkan kesalahan pengoperasian dan kerusakan komponen rem.

Salah satu jenis rem blong pada bus dan truk adalah tekor angin yakni hilangnya gaya bantu pendorong mekanikal rem sehingga tenaga injakan pedal rem dari pengemudi tidak akan optimal.

Ahmad Wildan, Investigator Senior Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), mengatakan angin tekor kerap menjadi penyebab rem pada bus dan truk blong.

Baca juga: Bus Tidak Berizin Leluasa Beroperasi, Keselamatan Masyarakat Jadi Taruhan

KNKT dan Dishub serta mekanik Hino lakukan pemeriksaan bangkai bus maut Trans Putera Fajar, Senin (13/5/2024), yang mengalami kecelakaan maut di Ciater, Subang, Jabar, Sabtu (11/4/2024).
Tribun Jabar/ ahya Nurdin KNKT dan Dishub serta mekanik Hino lakukan pemeriksaan bangkai bus maut Trans Putera Fajar, Senin (13/5/2024), yang mengalami kecelakaan maut di Ciater, Subang, Jabar, Sabtu (11/4/2024).

“Angin tekor merupakan salah satu jenis rem blong, yaitu peristiwa di mana tenaga pneumatik sistem rem tidak mampu digunakan untuk mendorong actuator ataupun minyak rem sehingga sistem rem kehilangan kemampuannya,” ucap Wildan beberapa waktu lalu dalam sebuah Webinar ‘Fenomena Rem Blong dan Fakta Kecelakaan Bus & Truk’ di ITS.

Wildan mengatakan ketika tekor angin terjadi, pengemudi akan merasakan pedal rem menjadi keras setelah dioperasikan cukup lama dan berulang di jalan menurun.

“Fenomena ini hanya akan ditemui di sistem rem yang mengkombinasikan angin dan minyak rem sebagai penerus tenaga pengereman, di mana rem akan kurang maksimal bila angin di dalam kompresor habis atau tekor,” ucap Wildan.

Baca juga: Pelajar Depok Nyalakan Lilin dan Doa Bersama di Jembatan GDC untuk Korban Kecelakaan Bus SMK Lingga

Mobil derek berusaha mengevakuasi bus yang terlibat kecelakaan di Desa Palasari, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (11/5/2024). Hingga Sabtu (11/5) malam, petugas gabungan dari BPBD, Polri, TNI dan Damkar masih mendata jumlah korban meninggal dunia dan korban luka-luka pada kecelakaan tersebut. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi Mobil derek berusaha mengevakuasi bus yang terlibat kecelakaan di Desa Palasari, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (11/5/2024). Hingga Sabtu (11/5) malam, petugas gabungan dari BPBD, Polri, TNI dan Damkar masih mendata jumlah korban meninggal dunia dan korban luka-luka pada kecelakaan tersebut.

Wildan mengatakan sistem rem pada jenis ini dibantu dengan tekanan angin kompresor, sehingga dengan gaya penginjakan pedal rem sekian bisa menghasilkan gaya dorong yang lebih besar dari gaya yang didorong oleh pengemudi.

“Untuk dapat bekerja secara normal, sistem pneumatik pada sistem rem harus berkisar antara 6 sampai 10 bar, pada angka 5 bar, maka kemampuan mendorong melemah dan sistem rem tidak berfungsi,” ucap Wildan.

Wildan mengatakan angin yang tersimpan di dalam kompresor ini terbatas, dan akan terisi kembali bila mesin bekerja, semakin tinggi putaran mesin maka akan semakin cepat angin terisi.

Baca juga: Korban Kecelakaan Bus di Subang Bakal Diberi Pendampingan Psikologis untuk Hilangkan Trauma


“Penurunan tekanan angin pada tabung angin bisa disebabkan karena adanya kebocoran pada sistem maupun kegiatan pembuangan angin jauh lebih cepat dibandingkan pengisiannya, seperti melakukan pengereman secara terus menerus dan lama, atau digunakan untuk klakson angin,” ucap Wildan.

Sedangkan untuk kendaraan yang menggunakan rem angin penuh, sistem kerjanya terbalik, bila angin tekor justru kendaraan akan mengerem secara otomatis.

“Terdapat dua macam perbedaan yang menonjol pada kasus ini, dimana sistem rem dengan angin penuh masih bisa diselamatkan jika terjadi kasus ini, namun tidak demikian dengan yang menggunakan rem angin dengan sistem hidrolik,” ucap Wildan.

Jadi, angin tekor kerap melatarbelakangi terjadinya rem blong pada bus dan truk saat melewati jalan menurun karena pengemudi mengandalkan rem utama terlalu sering atau terjadi masalah pada sistem.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat