vadakkuvaasal.com

Potret Tol Jagorawi, Tol Pertama di Indonesia

Ilustrasi Tol Jagorawi.
Lihat Foto

JAKARTA, - Berbicara soal sejarah jalan tol tentunya tidak terlepas dengan keberadaan Jagorawi. Jagorawi merupakan akronim dari Jakarta-Bogor-Ciawi yang merupakan ruas tol pertama di Indonesia.

Sebagai informasi, Jagorawi resmi beroperasi pada 9 Maret 1978 atau 46 tahun lalu.

“Jalan Tol Jagorawi merupakan jalan terbaik yang kita miliki,” ucap Presiden Soeharto ketika meresmikan Tol Jagorawi saat itu.

Baca juga: Masih Percaya Yamaha, Quartararo Perpanjang Kontrak sampai 2026

Salah satu akun Instagram bernama @infocibubur._ menampilkan sejumlah potret jalan Tol Jagorawi saat baru pertama dibangun hingga diresmikan.

Pada foto pertama memperlihatkan kerbau menyeberangi Jalan Tol Jagorawi, dua hari setelah jalan tol tersebut diresmikan.

Foto selanjutnya tampak pembokaran rumah penduduk di bawah kabel listrik tegangan tinggi di depan Kampus UKI, Cawang, Jakarta, oleh Kamtib DKI, Rabu (25/8/1976), untuk proyek Tol Jagorawi. Pemilik warung tersebut, Subagio menerima ganti rugi Rp 504.000.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Info Cibubur dan Sekitarnya (@infocibubur._)

Dalam gambar tersebut juga terlihat foto Presiden Soeharto membayar Rp 300 di pintu tol untuk kendaraan yang digunakan menikmati jalan bebas hambatan pertama di Indonesia itu.

Tampak juga patung orang-orangan menggunakan baju berwarna oranye ini memberikan isyarat harus hati-hati bagi pengendara di Jalan Tol Jagorawi, kecepatan kendaraan harus dikurangi karena ada perbaikan jalan.

Usai diresmikan, Jalan Tol Jagorawi untuk pertama digunakan sebagai tempat latihan balap sepeda SEA-Games ke-10.

Dilansir dari , Jumat (6/4/2024), cerita di balik dibangunnya Jagorawi tak lepas dari wacana yang pertama kali dikemukakan Wali Kota (sekarang setara Gubernur) Jakarta Raden Sudiro pada 1955. Sudiro memimpin kota Praja Jakarta Rawa pada 1953-1960.

Dikutip dari dokumen berjudul “Jalan di Indonesia: dari Sabang Sampai Merauke” yang disusun tim peneliti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Sudiro mengusulkan pengadaan jalan berbayar yang bisa digunakan sebagai dana tambahan untuk pembangunan.

Ruas Tol Jagorawi Jasa marga Ruas Tol Jagorawi

Namun, usul itu ditolak oleh DPRDS dengan alasan jalan bebas hambatan justru akan mengganggu lalu lintas. Penarikan tarif jalan tol juga dinilai seperti pungutan pajak pada era kolonial.

Pada masa Orde Baru, usul ini mencuat kembali. Direktur Jenderal Bina Marga pada Pelita IV bernama Suryatin Sastromijoyo memiliki argumentasi soal mengapa Indonesia butuh jalan tol.

Suryatin mengambil contoh Jakarta. Pada 1980, jalan arteri yang menghubungkan wilayah di DKI Jakarta dengan daerah lainnya (Karawang, Bogor, Tangerang) tercatat dibanjiri kendaraan.

Setiap hari, terpantau 50.000 hingga 70.000 kendaraan lalu lalang di jalan-jalan arteri itu. Keadaan itu menyebabkan kemacetan lalu lintas yang berujung pada kerugian ekonomi.

Baca juga: Alasan Kenapa Suhu Air Radiator Sering Naik Saat Melintas Perbukitan

Padahal, menurut Garis-Garis Besar Haluan Negara Bidang Pembinaan Jaringan Jalan, pembangunan prasarana harus ditujukan untuk menunjang peningkat pertumbuhan produksi barang dan jasa serta keberlanjutan pemerataan pembangunan.

Rencana pembangunan tol pun terealisasi pada 1973, yakni tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi). Proyek tersebut memakan waktu pengerjaan lima tahun dan resmi beroperasi pada 9 Maret 1978.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat